The Naked Future

Happiness is simple............ but..........


Pernahkah anda berpikir ? Bahwa bahagia itu sederhana atau menurut anda bahagia itu sesuatu yang rumit yang hanya dimiliki oleh orang kaya ?  Jika yang terakhir itulah pendapat anda, maka saya pastikan bahwa anda 100%  salah.  Karena sebenarnya bahagia sederhana, simple dan milik semua orang.

Tuhan maha adil, menciptakan kebahagiaan bagi siapa pun yang mau meraihnya. Mengapa saya katakan bahagia itu sederhana, simple dan milik semua orang ? Dan bahagia itu berbeda untuk setiap orang.  Suatu kejadian dapat membahagiakan kita, tapi belum tentu dapat membahagiakan orang lain.  Makanya saya sebut kebahagiaan setiap orang itu berbeda dan kejadiannya pasti berbeda.

Satu contoh kecil, bagi sebagian orang, terutama orang miskin yang mau makan aja susah, maka mendapat makan saja itu sudah membahagiakan. Tapi tidak bagi orang yang secara materi sudah cukup. Mau makan apa saja selalu tercukupi. Maka mendapat makanan terhadap orang seperti itu tidak atau kurang membahagiakan.  Satu contoh lagi, seseorang sedang berada di padang pasir yang panas dan dia kehausan.  Pastinya, mendapat air untuk minum merupakan satu kebahagiaan baginya. Tapi, bagi orang yang sedang berada di kota atau di restoran atau ditempat yang banyak air untuk diminum dan tidak kehausan, pastinya, bagi orang tersebut, mendapat air bukan sesuatu yang membahagiakan.

Kebahagiaan itu ada dalam pikiran dan biasanya akan terefleksi pada sikap dan perbuatan kita. Jika orang merasakan bahagia, biaya dia akan mudah tersenyum, bertutur kata yang lembut, mudah diminta tolong.  Sebaliknya orang yang tidak bahagia biasanya wajah kelihatan berkerut, mudah marah dan suka membentak. Itulah deskripsi umum antara orang yang bahagia dan tidak bahagia.

Dan, satu-satunya kunci mendapat kebahagiaan adalah RASA SYUKUR kepada Allah SWT. Bahwa apa yang didapat atau dialami hari ini adalah hal terbaik yang diberikan Allah kepada kita.  Kita hanyalah manusia yang mampu dan harus berusaha secara total dan berdoa secara ikhlas. Selebihnya biarkan Tuhan yang bekerja untuk kita.  Apapun hasilnya syukuri, karena memang itulah yang terbaik.

Tulisan ini jangan dianggap sesuatu itu akan datang dengan sendirinya, karena Allah sudah menentukan seperti itu.  ITU TIDAK BENAR.  Allah tidak akan pernah mau memberi kepada orang yang tidak berusaha.  Dan sekecil apapun usaha itu, Allah pasti akan memperhatikannya.

Namun dalam hidup, bukan bahagia seperti itu yang kita cari. Kebahagiaan sesaat atau kebahagiaan semu hanyalah untuk manusia yang kurang bersyukur. Mendapat makan, mampu beli sepeda, beli mobil, beli rumah, beli pesawat atau bahkan mampu membeli sebuah pulau adalah sesuatu yang membahagiakan. Tapi itu semua bukan kebahagiaan hakiki, melainkan hanyalah kebahagiaan semu belaka.
Lantas bagaimana caranya mendapatkan kebahagiaan yang hakiki ?  Saya menyebut ada tiga tingkatan kualitas kebahagiaan, yaitu :
  1. Kebahagiaan egoistik, yaitu  kebahagiaan yang bersifat pribadi untuk diri sendiri. Misalnya, ketika kita berlaku sabar dan ikhlas dalam menghadapi masalah kita sendiri maka kita bakal memperoleh ’rasa bahagia’ selama proses maupun hasil akhirnya.  Orang yang sabar dan ikhlas dalam bekerja mencari rezeki misalnya, dia akan memperoleh kebahagiaan terkait dengan proses yang sedang berlangsung. Dia mencintai pekerjaannya. Dia bangga dengan apa yang dilakukannya. Dia menikmati hasil yang diperolehnya dengan penuh perjuangan, seberapa pun besarnya. Jika bertemu kesulitan dia bersabar dalam menyelesaikannya. Dan jika pun tak terpenuhi target yang diharapkan ia ikhlas menerimanya. Dia tak pernah menyesali keadaan. Sebaliknya, selalu mensyukuri atas setiap peristiwa yang terjadi padanya. Gagal ataupun sukses tak pernah menjadi masalah besar buatnya. Karena kesabaran dan keikhlasannya sudah berurat berakar dalam dirinya. Dia telah berhasil berdamai dengan segala yang ada di sekitarnya, dan menjadi berbahagia karenanya.
  2. Kebahagiaan sosialistik, yaitu kebahagiaan yang diperoleh karena ia menerapkan kesabaran dan keikhlasan dalam wilayah sosial. Kebahagiaan sosialistik jauh lebih membahagiakan dan bersifat ’lebih abadi’.  Kebahagiaan sosial memiliki batas yang sangat luas bergantung seberapa besar dan seberapa banyak kebajikan sosial yang kita lakukan. Tidak hanya yang bersifat materi, melainkan juga yang bersifat keilmuan ataupun bantuan psikologis. Misalnya ramah kepada siapa saja. Selalu menyambut orang lain dengan senyuman dan salam. Atau memberikan nasehat dan meringankan beban pikiran sahabat. Atau, sekecil apa pun bantuan yang kita berikan kepada orang lain.  Itulah sebabnya, kenapa Allah mengajari kita untuk berbuat kebajikan kepada siapa saja. Karena Allah sedang ingin menunjukkan kepada kita sumber-sumber kebahagiaan yang batasnya adalah kita sendiri yang menentukan. Tentu bukan kebajikan yang pura-pura dan penuh pamrih, melainkan kebajikan yang dilandasi keikhlasan dan kesabaran. Semakin tinggi jiwa sosial seseorang, semakin besar kebahagiaan yang bakal dia terima..!
  3. Kebahagiaan spiritualistik. Inilah tingkatan kebahagiaan yang tidak ada batasnya. Mencakup kebahagiaan egoistik dan sosialistik sekaligus. Intinya, setiap kebahagiaan yang lebih tinggi pasti mencakup kebahagiaan yang lebih rendah. Sekaligus, memberikan sumber-sumber kebahagiaan yang semakin luas dan tak terbatas.  Mencakup hubungan kemanusiaan dan hubungan keilahian. Kalau ada orang mengaku hubungannya dengan Tuhan baik, tetapi secara sosial jelek, pasti ada yang nggak beres dengannya. Tidak mungkin demikian. Karena ini adalah hubungan yang berjenjang. Hanya orang yang bahagia secara pribadilah yang bisa memberikan kebahagiaan secara sosial. Mana mungkin dia bisa membahagiakan orang lain, kalau untuk dirinya saja tidak bisa. Mana mungkin pula dia bisa bahagia secara spiritual, kalau secara sosial pun amburadul.  Maka, begitulah tingkatannya. Bahagiakan diri sendiri terlebih dahulu dengan menerapkan akhlak mulia secara benar. Lantas, luaskanlah kebahagiaan yang bersifat pribadi itu untuk orang-orang di sekitar Anda. Dan kemudian, abdikanlah seluruh kebahagiaan yang pribadi maupun sosial itu untuk kehidupan, hanya karena Allah semata. Hasilnya, Anda akan memperoleh kebahagiaan yang tiada terkira. Yang oleh Rasulullah disebut sebagai surga dunia. Dan kemudian berlanjut ke surga akhirat..!

Selamat menikmati, dan semoga kita semua termasuk orang yang memperoleh kebahagiaan hakiki atau kebahagiaan spiritualistik.  Amin YRA.

Comments

Popular Posts